Pijat Yayang Senang Om Bayar Marak di Gunungputri
ilustrasi

Pijat Yayang Senang Om Bayar Marak di Gunungputri

Grosir Blazer

BOGOR – Keberadaan panti pijat plus plus di Gunungputri, Kabupaten Bogor makin tumbuh subur. Jumlahnya disinyalir ada puluhan yang berada di tempat tersebar. Kendati warga sudah berulangkali mengaku merasa dibuat resah, namun aparat terkait, dalam hal ini Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) seolah sulit memberantas.

“Kami curiga ada praktik suap yang masuk ke oknum Satpol PP Kecamatan, dari setiap panti pijat yang ada,” kata pengemudi ojek yang juga warga setempat, Abdulah (35) saat diwawancarai, Rabu (3/5/2017).

Ia juga mengaku pesimis Pemkab Bogor bisa menertibkan praktik jasa pijat plus-plus dilingkungannya. Kata dia, dari kabar yang beredar pengelola panti pijat setiap minggunya kerap memberikan upeti pada oknum petugas kecamatan.

“Sudah bukan rahasia lagi, ada setoran sebagai uang damai ke oknum kecamatan. Tapi, mohon jangan cantumkan nama lengkap saya. Karena, setahu saya ada aparat yang ikut membekingi,” imbuhnya.

Keluhan yang sama juga disampaikan Arifin, warga RT 01/10, Kompleks Binamarga, Kecamatan Gunungputri, Kabupaten Bogor. Kata dia, banyaknya panti pijat di Jalan Raya Gunungputri–Cileungsi sudah tidak mempan dengan protes warga. Dia pun mengaku prihatin dengan sikap DPRD dan Pemkab Bogor yang diwakili Camat Gunungputri terkesan melakukan pembiaran.

“Banyak warga Desa Gunungputri dan Tlajungudik sudah resah dengan keberadaannya. Keberadaan panti pijat itu banyak menyediakan para wanita penghibur, sedangkan keberadaannya tanpa disertai izin lingkungan. Kami berharap lingkungan kami terbebas dari bisnis esek-esek,” kesalnya.

Pantauan media online ini dilingkungan Gunungputri, jasa pijat memang marak. Hampir semua jasa pijat mematok tarip Rp100 ribu per jam yang dilayani wanita muda. Bahkan, dengan memberi tarip lebih yang telah disepakati dengan wanita pemijat, bisa mendapat layanan ekstra plus-plus. 

Bisnis lendir tumbuh subur di wilayah timur Kabupaten Bogor. Kondisi ini terbukti dari banyaknya lokasi dan tempat mangkal para PSK berkedok panti pijat dan refleksi. Pengawasan yang minim dan kurang tegasnya penindakan dinilai men­jadi pemicu bisnis esek-esek ini.

“Kalau mau pijat ehem-ehem, cuma Rp200 ribu sampai Rp250 ribu. Pelayan nanti akan melayani yang plus-plusnya,” tukas salah wanita layanan pijat di Gunungputri yang mengenalkan diri bernama Santi (29). (ron)  

Berita terkait